Strategi Pembelajaran Sains dan Teknologi di Perguruan Tinggi dalam Mengawal Revolusi 4.0

Dalam rangkaian Dies 25 tahun FTIS UNPAR, panitia menerbitkan bunga rampai, berupa kisah-kisah dari warga FTIS.

Catatan penyunting: Artikel ini merupakan isi orasi ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, M.P (Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti) pada tanggal 24 April 2018.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shaloom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Selamat pagi dan dan salam sejahtera bagi kita semua.
Yang saya hormati,

  • Ketua Yayasan UNPAR
  • Rektor UNPAR;
  • Para Pimpinan PTS yang hadir;
  • Dekan FTI d an FTIS, UNPAR
  • Para Kaprodi dan sekretaris Prodi
  • Para Tamu Undangan,Alumni FTI dan FTIS serta
  • Mahasiswa dan mahasiswa yang dibanggakan
  • serta Hadirin yang saya muliakan.

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan YME, karena hanya dengan karunia-Nya kita dapat berkumpul bersama dihari yang berbahagia ini dalam rangka menghadiri acara Dies Natalis FTI dan FTIS Universitas Katolik Parahyangan.
Izinkan saya mengucapkan Selamat atas SILVER ANNIVERSARY FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FAKUTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN SAINS disertai ucapan terima kasih kepada seluruh pimpinan UNPAR serta jajarannya atas kerja keras dan kerjasamanya dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Semoga kita semua selalu diberi kekuatan, kesempatan, kesehatan, untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita, YAKNI MENUNTUT ILMU UNTUK DIBAKTIKAN KEPADA MASYARAKAT, bangsa, dan negara tercinta ini. Amin.

Ibu, Bapak, dan Hadirin yang saya hormati,
Saya dan masyarakat Jawa Barat serta Bangsa Indonesia bangga atas pencapaian UNPAR, pada usia yang sangat matang yakni ulang tahun yang ke-63 UNPAR menjadi Perguruan Tinggi ranking ke-34 dari lebih 4.600 Perguruan Tinggi (PT). Mohon berikan penghargaan melalui tepuk tangan yang meriah atas prestasi UNPAR. UNPAR juga telah tumbuh dewasa dan menjadi PT yang menginsprasi banyak PT lain.

Hadirin yang kami muliakan,
Pada kesempatan yang istimewa ini, sesuai dengan undangan, ijinkan saya menyampaikan orasi ilmiah dengan tema “STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS DAN TEKNOLOGI DI PERGURUAN TINGGI MENGAWAL REVOLUSI INDUSTRI 4.0”.

TANTANGAN Indonesia di Era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN -red) dan Era Revolusi Industri 4.0 diantaranya adalah kita semua tengah memasuki era Revolusi Industri ke-4,0, era disrupsi teknologi. Seperti yang kita ketahui bersama Revolusi Industri pertama (tahun 1784) ditandai dengan ditemukannya mesin bertenaga air dan uap. Revolusi ke-2, produksi masal pemanfaatan energi listrik (1870). Revolusi ke-3 (1969), tercipta programmable logic berbasis IT dan otomatis. Revolusi industri ke-4 mobile supercomputing, dan intelligent robot (Klaus Schwab, WEF), dan diprediksi oleh para ahli, Revolusi Industri 5.0 akan mengarah kepada otomatisasi, robotik canggih dan nuklir. Apakah Indonesia dan UNPAR sudah siap? Mari kita berkaca kepada beberapa data: Belanja Pendidikan Indonesia total 21%, khusus untuk pendidikan tinggi formal sebesar 4.9%, sedangkan Singapura, Malaysia, dan Thailand berturut-turut sebesar 16,7 %, 18,9 % dan 17,8 %. Pengangguran di dominasi lulusan SMK : 11,41% SMA : 8,29% dari angkatan kerja 66,67% (128.06 juta) yang terdiri dari 65% adalah lulusan SD dan SMP, angkatan kerja yang akan kehilangan perkerjaan pada Era disruption teknologi karena akan digantikan oleh otomatisasi dan robot. Di samping hal-hal di atas, Faktor kemampuan menarik talent dari luar negeri Indonesia sebesar USD 4.993, sedangkan Remunerasi profesi bidang jasa Singapura, Malaysia, dan Thailand berturut-turut sebesar USD 39.280, USD 11.436 dan USD 12.900. (Sumber: IMD World Talent Ranking, 2017).

Permasalahan utama Indonesia adalah kebutuhan talenta ilmu dasar dan lintas disiplin. Terdapat sejumlah profesi baru yang membutuhkan latar belakang pengetahuan dan keterampilan lebih dari satu disiplin ilmu dasar, sesuai dengan karakteristik inovasi yang baik yang harus memenuhi 3 faktor (desirability, feasibility dan viability).

Bapak dan Ibu yang sangat kami hormati,
Pada Era Revolusi Industri 4.0, terdapat 10 (sepuluh) kompetensi yang sangat dibutuhkan yaitu:

  1. Sense-making
  2. Social intelligence
  3. Novel & adaptive thinking
  4. Cross-cultural competency
  5. Computational thinking
  6. New-media literacy
  7. transdisciplinarity
  8. Design mindset
  9. Cognitive load management
  10. Virtual collaboration.

Untuk mendapatkan kesempatan menjadi SDM yang kompetitif di sepuluh bidang di atas, maka pendidikan tinggi harus membekali mahasiswa dan lulusannya dengan Lifelong Education berupa Literasi baru yaitu:

  1. Big data dan programming
  2. Literasi teknologi
  3. Literasi manusia.

Selain itu, mahasiswa kita harus diberkali dengan kesimbangan HARD SKILL dan SOFT SKILL. Indonesia harus bekerja keras dalam memenuhi kompetensi abad 21, yakni SDM dengan kompetensi yang adaptif, fleksibel, kreatif, innovatif, menguasai IT, menguasai Bahasa Internasional, Komunikatif, punya sikap leadership yang tinggi, kritis dan punya kemampuan high order thinking sehingga HDI Indonesia mendekati Singapura. Saat ini Human Development Index (HDI) Indonesia menurut United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2016, berada diurutan ke 113 dari 188 negara. Bandingkan dengan Singapura yang berada di urutan ke-5, Malaysia diurutan ke-59, Thailand ke-87.

Hadirin yang saya muliakan,
Selain berbagai tantangan di atas, Negara Indonesia yang kita cintai juga mempunyai berbagai macam peluang, yakni Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar ke-4 di dunia (~260 juta jiwa), pada tahun 2030, penduduk Indonesia mempunyai proporsi mayoritas usia produktif mencapai lebih dari 60% (bonus demografi). Modal insani ini jika dibarengi dengan pendidikan dan keterampilan yang baik, disertai dengan penguatan ekonomi berbasis sumber daya alam juga penguatan ekonomi berbasis industri, dan ekonomi berbasis inovasi, akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Amat mungkin mewujudkan Indonesia menjadi negara yang maju, mandiri dan sejahtera.

Masih dalam kaitannya dengan bonus demografi, proyeksi Pricewaterhouse Coopers (PwC) tahun 2017, Indonesia pada tahun 2050 berpotensi menjadi negara dengan perekonomian ke-4 terbesar di dunia setelah Cina, India, Amerika Serikat, melampaui Jepang, Jerman dan Inggris. Dalam hal ini, Indonesia perlu mempersiapkan generasi muda yang berpendidikan (pendidikan tinggi), generasi yang berwawasan global, skilled workers, dan berdaya saing tinggi, termasuk wirusaha (entrepreneurs), sehingga tahun 2050 generasi ini akan menjadi pemimpin di tingkat dunia.

Bapak dan Ibu yang saya hormati,
Untuk mencapai generasi yang berwawasan internasional, kompetitif dan berdaya saing global maka harus dikembangkan STRATEGI PEMBELAJARAN INOVATIF Karena Muncul model bisnis baru, maksimalkan dan MANFAAT DIGITAL INKLUSIVITAS untuk perluasan
akses layanan yang lebih terjangkau dan lakukan EFISIENSI agar Layanan yang lebih cepat dan murah.

Kompetensi akademis mahasiswa dan lulusan FTI dan FTIS yang direpresentasikan melalui nilai transkrip akademis dan Indek Prestasi merupakan cermin diri dari hard skill. Apakah cukup untuk bersaing di era global? Tentu saja tidak, mahasiswa harus dibekali dengan soft skill yaitu literasi manusia abad 21 yang telah disampaikan di atas yakni adaptif, fleksibel, kreatif, innovatif, menguasai IT, menguasai Bahasa Internasional, Komunikatif, punya sikap leadership yang tinggi, kritis dan punya kemampuan high order thinking. Dengan demikian SDM Indonesia LEBIH KOMPETITIF dapat diibaratkan sebagai sebuah koin dimana satu sisinya berupa hard skill dan sisi lainya adalah soft skill. Apakah cukup menciptakan sebuah koin? Koin bagaimana yang akan disiapkan oleh FTI dan FTIS untuk dapat bersaing secara nasional dan internasional, bisa saja koin besi, koin tembaga, koin aluminium, koin emas, menurut saya yang paling cocok untuk UNPAR adalah ”COIN PLATINUM SPECIAL EDITION”.

Kemenristekdikti sangat yakin dengan reputasi UNPAR sebagai PT dengan AIPT A dan sebagian besar prodi mempunyai akreditasi A dengan misi dan manajemen yang paripurna, didukung dengan dosen istimewa yang mumpuni, fasilitas memadai, infrastruktur yang mendukung serta strategi pembelajaran digital yang inovatif, inklusif dan efisien, maka mahasiswa dan lulusan UNPAR akan siap menghadapi Era Revolusi Industri 4.0.

Jika mahasiswa FTI dan FTIS sudan kompetitif dan siap bersaing di era global, maka yang harus dilakukan adalah menyiapkan strategi inovasi perencanaan diri berupa planning mandiri jangka panjang, angka menengah dan jangka pendek. Rumuskan cita-cita saudara 10 tahun yang akan datang, 5 tahunan dan tahunan sehingga saudara tahu, mengerti dan menggambar peta jalan untuk sukses. Tentukan posisi suskes dengan SMART….Specific, Measurable, Attainable, Rational and Time Frame…. Contohnya pada tahun 2028 akan menjadi ahli cloud computing level 8 KKNI di ASEAN. Dengan SMART planning tersebut saudara akan membekali diri mulai tahun 2019 sd 2027 dengan kuliah master bidang cloud computing, standar kompetensi level 8 KKNI atau standar internasional yang sepadan, kompetensi Bahasa Inggris / asing lainnya, menyiapkan dana, sarana dan prasarana belajar S2 selama kurun waktu tersebut paralel dengan kompetensi soft skill abad 21-adaptif, fleksibel, kreatif, inovatif, higher order thinking, komunikatif serta leadership.
Saya yakin mahasiswa FTI dan FTIS UNPAR akan siap untuk membawa Indonesia kepada masa keemasan, karena saya percaya FTI HEBAT, FTIS LUAR BIASA, dan UNPAR HEBAT LUAR BIASA.

Ibu, Bapak, serta para Hadirin yang berbahagia, Sebagai penutup, saya sangat berharap Strategi pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0 berupa inovasi, inklusi dan efisiensi dalam mencapai soft skill dan hard skill diterapkan dengan VIT-C….Versatile, Integrity and Total Commitment sehingga para lulusan FTI dan FTIS mudah diserap dunia kerja di dalam negeri dan di luar negeri.
Demikian orasi ilmiah disampaikan. Sekali lagi Selamat Dies Natalis ke-25, FTI dan FTIS UNPAR akan semakin maju dan menjadi Center of Excellence pendidikan Teknologi Industri, Teknologi dan Informatika serta Sains di Indonesia.
FTI hebat…, FTIS luar biasa…UNPAR Hebat luar biasa.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh

Direktur Pembelajaran,
Paristiyanti Nurwardani