SAMBUTAN PENGURUS YAYASAN DALAM ORASI DIES

Dalam rangkaian Dies 25 tahun FTIS UNPAR, panitia menerbitkan bunga rampai, berupa kisah-kisah dari warga FTIS.

Catatan penyunting: Artikel ini merupakan sambutan dari wakil pengurus yayasan, Pastor Basilius Hendra Kimawan, OSC., L.Th. dalam acara Orasi Dies FTI & FTIS.

Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti, Ibu Paristiyanti Nurwardani,
Para tamu undangan,
Rektor dan Senat Universitas Katolik Parahyangan,
Pimpinan FTI dan FTIS,
Para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa,
Segenap hadirin yang berbahagia.

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi Anda sekalian,

Pada hari ini kita merayakan pesta perak, dua fakultas yang lahir kembar, yaitu FTI dan FTIS. Dua puluh lima tahun telah berlalu FTI dan FTIS melintasi zaman. FTI melintasi zaman dalam kepemimpinan para dekan: Bapak Ign. Suharto sang perintis, dilanjutkan oleh Ibu Judy Retti, Bapak Budi Husodo, Bapak Paulus Sukapto, dan kini Bapak Thedy Yogasara yang alumnus FTI Unpar angkatan 1993. Sementara itu, FTIS melintasi zaman dalam kepemimpinan para dekan: Bapak A. Rusli sang perintis, Ibu Rosa de Lima, Bapak Dharma Lesmono, Bapak Paulus C. Tjiang, dan kini Bapak Ferry Jaya Permana. Untuk itu kita sangat bersyukur atas perjalanan dan kebersamaan yang telah berlangsung di kedua fakultas ini.

FTI dan FTIS telah menunjukkan bahwa mereka telah tiada lelah bertekun dalam memajukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan berbekal visi, komitmen, dan keberanian, para perintis kedua fakultas ini bekerja keras membangun fondasi kokoh, yang membuat keduanya melintasi zaman dengan kinerja yang membanggakan. Sesuatu yang sangat kita syukuri. Akan tetapi, perkembangan keadaan menantang kita semua dalam melanjutkan perjalanan melintas zaman. Seluruh dunia sedang intensif membicarakan zaman digital, dan menyongsong “Revolusi Industri Keempat”. Dunia industi sedang membicarakan strategi “Industry 4.0”. Dunia pendidikan pun membicarakan “Education 4.0”.

Universitas Katolik Parahyangan, termasuk FTI dan FTIS, didirikan sebagai partisipasi untuk mencerdaskan bangsa. Di tengah perkembangan keadaan ini, kita semua bertanya, “Pembelajaran seperti apa yang lebih cocok untuk zaman now dan zaman mendatang?” Pengurus Yayasan memandang bahwa pada era “Revolusi Industri Keempat” yang sedang menyingsing learning to lnow dan learning to do akan semakin cepat kadaluwarsa sedangkan learning to be akan semakin diperlukan. Pada “zaman now” kecakapan communication, collaboration, critical thinking (and problem solving), creativity (and innovation) merupakan kecakapan fundamental yang perlu disertai dengan karakter adaptability di temah zaman yang berkembang pesat. Itu semua tentu akan tetap perlu dikembangkan dalam dialog dengan iman, etika, dan estetika. Bukan hanya konten pembelajaran yang perlu diperbaharui, namun juga metodenya. Pembelajaran secara integratif – mempelajari sesuatu secara menyeluruh -, pembelajaran melalui projek, dan pembelajaran online merupakan beberapa ciri pembelajaran “zaman now” untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang semakin lintas-batas, lintas-sektor, lintas-disiplin, lintas-fungsi.

Pengurus Yayasan menyambut gembira prakarsa FTI dan FTIS yang mengundang Direktur Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, Ibu Paristiyanti Nurwardani, untuk menyampaikan pandangan tentang “Strategi Pembelajaran Sains dan Teknologi di Perguruan Tinggi dalam Mengawal Revolusi Industri Keempat”. Pengurus Yayasan berharap agar pandangan beliau didiskusikan lebih lanjut di lingkungan FTI dan FTIS (serta Fakultas Teknik, dan fakultas-fakultas lain sejauh hal itu relevan) untuk memperbarui konten dan metode pembelajaran sehingga lebih cocok dengan perkembangan zaman.

Dalam menyambut dan menjawab tantangan zaman now ini, banyak pembaruan yang mesti Universitas lakukan agar semakin mampu memberikan yang terbaik dalam mempersiapkan orang-orang muda di tengah situasi yang cepat berubah. Saat ini kurikulum baru sedang disusun oleh Universitas, pertanyaan kritis yang bisa diajukan adalah apakah kurikulum tersebut benar-benar sesuai dengan identitas, visi dan misi Unpar serta bisa menjawab tantangan zaman, yang di kemudian hari bisa membantu lulusan UNPAR menjadri seorang entrepreneur, yang bukan hanya pencari kerja namun bisa bekerja sendiri dan malah bisa menjadi pemberi kerja bagi banyak orang. Demikian juga dengan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat kiranya mesti sesuai pula dengan identitas kita dan mampu menjawab tantangan zaman.

Tugas universitas dengan tridharmanya sangat berat, maka Pengurus Yayasan terus memikirkan agar universitas benar-benar fokus pada tridharma, sementara fungsi-fungsi penunjang dikelola secara profesional oleh unit sendiri.

Demikian sambuat Pengurus Yayasan di hari yang berbahagia ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membesarkan FTI dan FTIS.

Selamat ulang tahun, FTI dan FTIS. Dirgahayu. Tuhan memberkati.