MENJADI “ROTI KEHIDUPAN” YANG MEMBUAT MELEK

Dalam rangkaian Dies 25 tahun FTIS UNPAR, panitia menerbitkan bunga rampai, berupa kisah-kisah dari warga FTIS.

Catatan penyunting: Artikel ini merupakan teks homili dari misa syukur yang diadakan pada tanggal 20 April 2018, yang dipimpin oleh Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bujamin,  OSC beserta Pst. Eddy Putranto, OSC & Pst. B. Hendra Kimawan, OSC.

25 thn FTI-FTIS, 20-4-18 Jumat Paskah 3B (Kis 9:1-20; Yoh 6:52-29)

Pengantar

Seorang pengamat pendidik berseru bahwa dunia punya banyak orang pintar, tetapi sedikit orang terpelajar. Bahkan ada yang berkata juga bahwa dunia memiliki cukup orang terpelajar, tetapi sedikit yang tercerahkan, yaitu orang yang bukan hanya jenius otaknya, tetapi juga humanis hatinya dan religius imannya. Kita butuh bukan hanya orang yang cemerlang pikirannya, tetapi juga cerah penglihatannya; hingga mampu melihat apa yang Tuhan kehendaki. Orang semacam ini akan menggunakan kepandaian dan keahliannya untuk mencari dan mengabdi Tuhan serta berbakti pada sesama.

Ilustrasi

“Di dalam diri kita ada dua serigala yang sedang bertempur. Serigala yang satu berwarna hitam memakan hate speech (rasa iri, tamak, jahat, dan dendam). Serigala yang satunya lagi berwarna putih memakan love speech (rasa cinta, bersyukur, dermawan, sabar, dan jujur). Mereka berdua selalu bertempur sampai menang dan yang menang akan selalu menjadi teman kita selamanya.” Yang diberi makan banyak akan menang.

Isi

Itulah pengalaman Saulus yang tampil sebagai pemuda yang hebar, berbakat, dan terhormat hingga saat Stephanus dirajam, orang banyak sepertinya meminta restu kepada Saulus dengan meletakkan pakaian di depannya (Kis 7:58). Ia menggunakan kepandaian (otak) dan kekuasaannya (posisi) untuk menganiaya pengikut Kristus. Sekalipun melihat matanya buta ditutupi gengsi dan ambisinya hingga Yesus menampakkan diri dan membuat Saulus buta mata manusiawinya agar bisa melek dengan menggunakan mata ilahi. Saulus yang buta mulai berdoa dan lalu melihat secara baru. Ia yang tadinya mengumbar kabar kebencian (hate speech), kini tampil sebagai pembawa berita cinta (love speech). Tadinya hanya otak dan ototnya yang diberi makan, kini hati dan budinya yang diberi juga nutrisi dan imannya tumbuh.

Yesus menawarkan diri sebagai roti kehidupan yang dapat memberi kehidupan kekal. Ia menyerahkan diri sebagai makanan sakramental dalam perayaan Ekaristi. Maka, setiap orang yang merayakan Ekaristi dan menyantap Tubuh-Nya akan diteguhkan menjadi para pewarta kedamaian; pembawa love speech. Itulah yang menjadikan identitas seorang Kristen, yaitu pewarta dan pelaku love speech karena makanannya adalah kasih itu sendiri.

Aplikasi

Makanan apa yang paling banyak kita sajikan untuk hati dan budi kita? Nutrisi apa yang paling sering kita berikan pada iman (roh) kita? Asupan itulah yang akan mempengaruhi “kesehatan” jiwa, badan, dan roh kita. Makin banyak ilmu yang berorientasi kemanusiaan dan ajaran yang berhaluan pada kehendak Allah, makin orang melek mata kemanusiaannya; makin ia menjadi orang tercerahkan yang menggunakan otak dan otot serta hati dan imannya untuk kemuliaan Allah dan keselamatan manusia. Untuk apa jenius kalau bukan untuk kesejahteraan bersama. Konon, Albert Einstein menyesal menyaksikan kesengsaraan akibat bom atom di Jepang dan berkata: lebih baik menjadi tukang sepatu daripada ahli matematika dan sains yang rumusnya digunakan untuk membuat bom yang menghancurkan manusia.
Semoga Fakultas Teknologi Industri dan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains yang berusia 25 tahun menjadi rumah belajar yang bukan hanya membuat orang pintar otaknya, tetapi cerdas hatinya. Semoga FTI dan FTIS ini menjadi rumah yang memberi makanan sehat bagi hati dan budi para sivitas akademikanya sehingga FTI dan FTIS ini menjadi
kampus yang membuat kita semua melek kemanusiaan; yang mendorong kita semua menjadi pewarta love speech dan pembawa damai sejahtera.