FTIS – BEBERAPA KENANGAN, PIKIRAN, DAN TERAWANGAN (2/3)

Dalam rangkaian Dies 25 tahun FTIS UNPAR, panitia menerbitkan bunga rampai, berupa kisah-kisah dari warga FTIS.


30 Januari 2018, oleh Aloysius Rusli

sambungan dari bagian pertama.

  1. Maka dibentuklah tim penyiapan studi kelayakan, dengan anggota terutama Pak Yunus Situmorang untuk menangani program studi Matematika, atas usul Rektor Pande Radja Silalahi (1990-1993), sedangkan saya menangani program studi Fisika. Karena saya kemudian menyimpulkan bahwa Pak Yunus perlu dibantu, saya ikut serta dalam rapat-rapat bidang Matematika dengan beberapa dosen Matematika ITB. Akhirnya susunan kurikulum bagi keempat program studi, Teknik Industri, Teknik Kimia, Matematika, dan Fisika saya bantu mintakan tandatangan persetujuannya dari prof Harsono Taroepratjeka (almarhum pada tahun 2016) dari Teknik Industri ITB, prof Veronica Susy Praptowidodo dari Teknik Kimia ITB, sedangkan untuk FMIPA seingat saya Prof Moedomo (almarhum ~tahun 2005) dari Matematika ITB, dan Prof Benny Suprapto dari Fisika ITB. Pada bulan April 1993 terbitlah Surat Keputusan Dirjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) yang menetapkan status “terdaftar”. Menurut saya status ini menunjukkan kepercayaan Pemerintah kepada Unpar, karena seringkali status awal suatu program studi baru “operasional” dulu. Maka mulailah perekrutan dosen dan kemudian penerimaan mahasiswa baru. Pak Dharma Lesmono dan Pak Agus Sukmana, dan Pak Paulus Cahyono Tjiang dan Ibu Sylvia Hastuti Sutanto, termasuk angkatan pertama dosen FMIPA, dengan Ibu Rosa de Lima disetujui pindah dari status administratif di BAAK menjadi dosen Matematika FMIPA. Rasanya total ada 6 dosen per program studi, sesuai dengan persyaratan yang diberlakukan Ditjen Dikti. Karena saya dosen tetap Fisika ITB sampai pensiun tahun 2008, saya bukan dosen tetap Unpar melainkan tetap pegawai administratif kontrakan Unpar sejak tahun 1981, dengan tahun 1993 memperoleh ijin ITB untuk menjadi Dekan FMIPA.
  2. Tentang tugas Dekan ini, terjadinya karena Pak Pande suatu siang hari tiba-tiba menelepon saya di Sekretariat Yayasan, menanyakan siapa kiranya yang patut diminta memimpin sebagai Dekan FMIPA yang direncanakan itu. Saya menjawab, bahwa Prof Moedomo yang ketika itu berusia sekitar 70 tahun banyak berpengalaman tentang kepemimpinan di perguruan tinggi. Tetapi kemudian saya memang terpaksa mengakui bahwa mungkin minat dan pengetahuannya tentang visi dan misi Unpar belum banyak, dan bahwa mungkin saya dapat juga menanganinya. Maka saya lalu merasa seperti disebut di Kitab Suci, “kalau kamu sudah dewasa, tanganmu akan diikat dan kamu akan dibawa ke tempat yang tidak kamu inginkan”. Saya menyadari bahwa tugas itu tidaklah ringan, dan mengharuskan saya menangani bukan hanya administrasi dan pegawai biasa, tetapi juga dosen-dosen berilmu yang terkadang sulit diyakinkan.
    Sikap “tidak menolak tugas” selain saya peroleh dari latar belakang kepanduan tersebut di atas, juga karena saya merasa melihat bahwa permintaan melakukan tugas itu menunjukkan kepercayaan pihak peminta akan kemampuan diri kita, jadi suatu penghargaan atas kemampuan diri kita, dan adanya kebutuhan akan bantuan diri kita. Maka bersikukuh menolak, atau berpura-pura menolak berkepanjangan, atau menerimanya dengan rasa terpaksa dan lalu mengerjakannya dengan keterlibatan rendah, menurut saya tidaklah profesional-utuh, setidaknya bagi kita di Indonesia. Jumlah ahli di lingkungan Indonesia masih terlalu sedikit, maka setelah memberitahukan konflik kepentingan atau keterbatasan keahlian yang kita miliki, sebaiknya kita langsung saja menerima penugasan apapun yang diajukan kepada kita; lalu mengerjakannya dengan sepenuh hati.
    Sikap sebaliknya, misalnya bersikap “saya dapat berkarya lebih bagus tanpa menerima permintaan tugas itu”, menurut saya terlalu percaya-diri mengetahui kebutuhan saat itu, atau terlalu mendahulukan tugas yang kita senangi. Memang saya akui, bahwa sikap siap-menerima-tugas itu dapat juga saya gunakan menjadi alasan “jadilah saya tidak sempat mengurus skor untuk menjadi guru besar”, tetapi rasanya alasan itu tidaklah cukup absah. Di situ tampak penggunaan asumsi, bahwa jalan “derita” mengikuti ke arah yang tidak kita kehendaki, dapat menjadi jalan memenuhi panggilan Tuhan.
  3. Pak Pande kemudian mengajak meninjau Wisma Unpar sebagai lokasi FTI dan FMIPA sejak April 1993 itu, yaitu 4 unit penginapan di sisi selatan kompleks yang mencakup 8 unit penginapan. Dari barat ke timur, kami menyepakati unit pimpinan kedua fakultas, unit ruang kerja dosen, dan unit bagi Lab Kimia Dasar dan Lab Fisika Dasar. Urutan ini dipilih berdasarkan tingkat prioritas, dan saya merasa bahwa FTI perlu didahulukan sedikit daripada FMIPA. Ruang kuliah diminta-pinjam di kampus Fakultas Filsafat, dengan penyediaan mobil Unpar sebagai shuttle dosen dari Jalan Gunung Agung Dalam ke Jalan Nias, yang ketika itu memerlukan waktu ~30 menit untuk satu arah. Syukurlah bahwa setelah 2 semester, gedung baru Rektorat telah siap digunakan, dan ruang pimpinan dan ruang dosen dapat pindah ke dua ruang di lantai 4 Rektorat, ujung selatan, satu menghadap ke barat, ruang dosen menghadap ke timur.
    Pada tahun 1996, gedung 7 dan 8 selesai dibangun di sisi selatan kampus Ciumbuleuit Unpar, dan FMIPA disepakati memperoleh lantai dasar / 1, dengan FTI memperoleh dua lantai (2 dan 3) di atasnya di Gedung 8, sedangkan bagian atas Gedung 7 menjadi wilayah Teknik Industri dan Teknik Kimia, dengan di bawahnya tetap wilayah Teknik Sipil. Perpustakaan Unpar yang semula lama berkedudukan di jalan Aceh, juga pindah ke kampus Ciumbuleuit demi lebih menunjang suasana akademik, dan memperoleh lantai terbawah / 0 Gedung 8, dan lantai terbawah Gedung 3 – FISIP.
    Pada tahun 1998, FMIPA telah berhasil mendirikan program studi baru bernama Ilmu Komputer, dengan dukungan penuh Ibu Rosa sebagai penggerak awal dan utamanya, didukung Ibu Heni dll. Semula ruang tengah di lantai 1 Gedung 8 dijadikan Lab Komputasi, dengan mempertahankan sementara lokasi Wisma Unpar bagi Lab Fisika Dasar.
    Pada tahun 2000, Gedung 9 selesai, dan Fakultas Ekonomi akhirnya pindah menempati lantai 3 (paruh barat) sampai ke lantai teratas / 8, dengan Perpustakaan ditempatkan ke lantai 2 dan 3 (timur). Lantai 1 disediakan untuk kantin, dengan suatu gerbang melingkar dan dua bejana cuci-tangan (“wastafel” Belandanya) yang sampai kini masih ada, sedangkan lantai semi-basement untuk kegiatan kemahasiswaan. Karena saya sebagai Dekan FMIPA mendengar adanya keengganan Fakultas Ekonomi tentang hadirnya kantin dengan peluang ikut hadirnya tikus dsb di lantai 1, saya berhasil meyakinkan Pastor Herman, OSC yang membangun dan mengendalikan Gedung 9 itu, untuk mengutamakan kebutuhan akademik, sehingga lantai 1 menjadi wilayah FMIPA.
    Kekosongan lantai 0 Gedung 8 dan lantai 0 Gedung 3 – FISIP, juga berhasil dijatahkan kepada FMIPA, agar fasilitas Wisma Unpar yang oleh keterpisahan lokasinya mempersulit aktivitas mahasiswa berpraktikum Fisika, dapat dialihkan ke lantai terbawah / 0 Gedung 8, sedangkan lantai 0 Gedung 3 dapat digunakan untuk peluasan Lab Komputasi, mendukung pengembangan program studi Ilmu Komputer. Lab Kimia sudah dapat ditampung di wilayah Gedung 7 dan 8 FTI. Maka keluhan “nomaden” (“pengembara” dalam bahasa Belanda) oleh mahasiswa sudah dapat berkurang, karena ruang kuliah telah ada di wilayah FMIPA sendiri, walaupun masih menyebar di 3 lokasi berdekatan. Lalu saya usai bertugas sebagai Dekan FMIPA, dan beralih bertugas membantu Dr Pius Suratman, Administrasi Publik FISIP, yang menjadi Rektor tahun 2002-2006; saya menjadi Wakil Rektor bidang Akademik & Kemahasiswaannya, dan Ibu Rosa menjadi Dekan FMIPA.
  4. Ketika kemudian FTI dan FISIP meminta ditambah wilayahnya, lantai 0 di Gedung 8 dan Gedung 3 diserahkan, dan Lab Fisika dan Lab Komputasi dapat ditampung di paruh timur semi-basement, karena perkantoran unit kegiatan kemahasiswaan dapat dipindahkan menempati rumah yang baru dibeli Yayasan di jalan Menjangan 6 (?), di sebelah Gedung MKU (Mata Kuliah Umum, yang kemudian berganti nama menjadi PKH – Pusat Kajian Humaniora, yang lalu diubah lagi namanya menjadi LPH – Lembaga Pengembangan Humaniora).
    Akhirnya, sekitar tahun 2010, Gedung 10 yang semula direncanakan untuk perparkiran, dialihkan sementara lantai 2 dan 3 nya menjadi wilayah FTI dan FMIPA (dengan Arsitektur di lantai 1 nya). FMIPA dapat memperoleh paruh barat lantai 3 untuk Lab Fisika dan beberapa ruang kuliah. Dengan demikian Lab Komputasi dapat lebih leluasa mengembangkan diri di sisi timur semi-basement Gedung 9.
    Kalau 2-3 tahun lagi Gedung PPAG (Pusat Pembelajaran Arntz-Geise) tahap 2 berupa dua menara tinggi selesai, semoga dengan pengelolaan terpusat, keleluasaan lokasi demi mengembangkan terus FTIS dsb dapat lebih ditingkatkan.
  5. Nama FTIS dipilih ~tahun 2014 karena istilah Ilmu Komputer menurut peraturan Dikti harus berubah menjadi Teknik Informatika, dan keguyuban FTIS rupanya tidak ingin ditinggalkan oleh dosen Ilmu Komputer/Teknik Informatika. Pak Paulus Tjiang yang ketika itu menjabat Dekan FMIPA, kemudian juga mencatat, bahwa Matematika, seperti Logika, Statistika, Ilmu Komputer, Ilmu Informatika, Ilmu Sistem, Ilmu Bahasa, dsb disebut sebagai ilmu-ilmu formal , yang melalui formalisme / bahasanya mendukung ilmu alam dari segi struktur, cara, dan penggalian makna di balik itu (lihat misalnya di Wikipedia). Maka dipilih istilah “Teknologi Informasi” untuk lebih mengkonkretkan istilah “Ilmu Formal”.
  6. Seusai tugas sebagai Wakil Rektor tersebut bulan Desember 2006, oleh Rektor Cecilia Lauw (2006-2011) yang menggantikan Rektor Pius Suratman, saya diubah status kepegawaiannya, dari tenaga kontrak administratif menjadi tenaga kontrak akademik, tetap 24 jam per minggu atas permintaan saya, agar saya tetap agak leluasa dapat membantu di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia); dan Dekan FMIPA diminta memberi tugas kepada saya. Jadi walaupun sejak didirikannya FMIPA saya sudah terlibat dalam mengelola kuliah seperti Pengenalan Program Studi Fisika dan Etika Profesi, baru pada tahun 2007 saya mulai terlibat dalam memberi kuliah Fisika juga, termasuk kuliah layanan Fisika Dasar di FT (Fakultas Teknik) dan FTI. Judul “Etika Profesi” semula adalah “Etika Profesi dan Filsafat Pancasila”, untuk memperdalam kuliah Etika yang umum (yang sudah ada sebagai suatu ciri khas di Unpar sejak tahun 1955) dengan mengaitkannya dengan keutuhan manusia yang tersirat dalam Pancasila. Kuliah ini ditujukan bagi mahasiswa Fisika dsb menjelang lulus sarjana.
  7. Hal itu lalu bersambung dengan tibanya masa pensiun saya dari Fisika ITB pada usia 65 tahun sejak 1 Juli tahun 2008. Maka perhatian saya tentang peningkatan efektivitas perkuliahan di bidang Fisika dapat terus saya kembangkan di Unpar. Selain itu, penugasan kuliah seperti Pengantar Fisika Material, Fisika Polimer, Reologi, Optika Modern dan kini Optika, Dunia Digital dan Sains (dimaksudkan sebagai suatu Fisika Dasar berbobot 2 sks bagi Teknik Informatika), Filsafat Sains, menunjang pendalaman kepahaman saya tentang Fisika dan lalu metafisika (sebagai suatu perluasan fisika ke arah yang kurang dapat diukur-kuantitatif, yang dapat merambah ke arah filsafat dan makna di balik realitas alam ini).
  8. Hal ini selaras pula dengan awal formal saya mendalami dialog ilmu dan iman sejak awal tahun 2012, yang kini memasuki tahap ke 6. Kalau diingat-ingat, sebenarnya sejak tahun 1961, ketika saya berhasil diterima studi di Fisika ITB selulus dari SMA St Albertus di Malang kota kelahiran saya, saya sudah sempat berpikir, bahwa studi Fisika akan membantu saya menemukan kaitan antara ilmu alam dengan agama yang saya anut. Ada semacam rasa / asumsi, bahwa sepatutnya dua hal itu, yang sama-sama berasal dari Sang Pencipta jagad raya ini, saling mengait dan saling konsisten. Terasa aneh jika Tuhan yang telah menciptakan manusia yang jelas mampu bernalar, lalu menciptakan hal-hal yang saling kontradiksi. Ini suatu kepercayaan / asumsi, karena tampak tidak dapat dibuktikan secara terukur. Teman-teman SMA saya lebih tertarik bergurau mengatakan bahwa saya dapat mencoba menjadi Newton kedua, menemukan deskripsi alam seperti dilakukan Isaac Newton. Saya ketika itu sudah sadar bahwa itu praktis tidak mungkin bagi saya, tetapi saya diam saja karena merasa tidak ada manfaatnya berdebat dan berbincang tentang hal-hal jauh seperti itu. Ternyata pada usia 70an tahun ini, saya dibukakan kesempatan untuk mendalami hal yang terpikirkan di akhir studi SMA itu. Saya merasa diri bersyukur sebagai manusia yang rasanya senantiasa mujur.

bersambung