FTIS – BEBERAPA KENANGAN, PIKIRAN, DAN TERAWANGAN (1/3)

Dalam rangkaian Dies 25 tahun FTIS UNPAR, panitia menerbitkan bunga rampai, berupa kisah-kisah dari warga FTIS.


30 Januari 2018, oleh Aloysius Rusli

  1. Bulan Desember 2017, saya diminta ibu Heni, Wakil Dekan 1 FTIS (Fakultas Teknologi Informasi dan Sains, semula bernama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, FMIPA), untuk sebelum 31 Januari 2018, ikut menulis minimal 1 halaman A4 bagi buku kenangan usia 25 tahun didirikannya FTIS. Permintaan ini siap saya penuhi dengan senang hati, karena memandangnya sebagai suatu kesempatan menuliskan suatu kenangan dan pemikiran serta terawangan tentang pembentukan FTIS ini. Memang saya merasa mengetahui sejumlah detail tentang FTIS, karena telah berjalan bersamanya sejak awal. Dengan demikian semoga sejarah FTIS menjadi cukup tercatat dengan baik; “cukup” saja karena beberapa data dan tahun mungkin perlu diralat rekan yang lebih tepat ingatnya. Selain itu, tulisan ini dapat melengkapi tulisan saya bagi buku serupa yang hendak diterbitkan oleh pihak FTI (Fakultas Teknologi Industri), yang telah selesai saya serahkan 29 November 2017.
  2. Sejak didirikannya tahun 1962, rupanya Fakultas Teknik Unpar (Universitas Katolik Parahyangan), khususnya program studi Teknik Sipil, sudah mengadakan kuliah Matematika dan Fisika dalam kurikulumnya. Sebagai dosennya rupanya dimintakan kesediaan antara lain dosen Matematika dan Fisika dari ITB. Yang saya ketahui adalah Profesor M Ansyar untuk Matematika, dan Pak B Darmawan Djonoputro untuk Fisika. Pernah juga ada Pak Tan Tjing Tie (ITB lalu Unpad) dan Pak Peter Ko (guru St Aloysius) bertugas sebagai dosen Fisika. Sekitar tahun 1983 sejenak saya pernah diminta menggantikan Pak Peter Ko yang pergi ke luar negeri. Pada tahun 1988an, ketika saya bertugas sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (KBAAK) di Unpar, saya pernah diminta oleh pimpinan Program Studi Teknik Sipil, untuk memberi ujian remedial bagi sejumlah mahasiswa Teknik Sipil yang sudah bertahun-tahun meninggalkan bangku kuliah karena telah memasuki dunia pekerjaan, dengan harapan agar mereka segera dapat diluluskan sebagai sarjana.
  3. Ketika itu saya mulai merasa dihadapkan pada suatu konflik kepentingan, atau mungkin lebih tepat suatu konflik budaya, antara tuntutan “harus bermutu sesuai dengan suatu standar ilmu tertentu” ataupun “budaya ilmiah tentang benar dan salah” ataupun “marilah kita menaati aturan yang ada”, dengan tuntutan yang sama realistiknya: “pak, saya sudah lama lupa fisika, saya sudah bertahun berpraktek di bidang Sipil, sulit belajar lagi tentang Fisika, tetapi semoga saya dapat lulus menjadi sarjana Teknik Sipil”, ataupun “budaya efisiensi: Karena sudah banyak pengalaman praktek, syarat lulus kuliah Fisika sekian tahun yang lalu sudahlah dianggap terkuasai melalui praktek” ataupun “Saya tidak sempatlah belajar ulang tentang fisika yang sulit dipahami itu”, semacam budaya tawar-menawar peringanan aturan.
    Saat ini sayapun sedang mengalami keadaan serupa: Karena saya terlewat mengurus perpanjangan SIM (Surat Ijin Mengemudi), ~2 bulan, saya diwajibkan mengikuti prosedur sebagai peminta SIM baru. Saya memilih sikap “meskipun dianggap memboroskan waktu, saya menolak untuk menempuh jalur suap” senilai ~700 kilorupiah yang disarankan beberapa teman dan yang saya rasa juga tampak terjadi melalui bisik-bisik. Saya merasa melihat, bahwa tindakan yang baik adalah, menghadapi konflik itu jangan dengan membutakan diri, menutup otak dan hati, melainkan dengan berusaha “make the best out of it”, mencari jalan tengah yang optimal: standar diupayakan, harapan individual juga diingatkan agar tetap ingat-diri tentang ketaksempurnaan ini di masa depan. Jadi bukannya dengan berlindung di balik aturan, bersikap tidak peka dan membutakan diri, melainkan mencoba menemukan tindakan yang bijak, yang berani kita lakukan dengan terbuka. Inilah konteks akademik awal saya dengan Unpar.
  1. Sebenarnya interaksi berkepanjangan saya dengan Unpar baru terjadi setelah Pater Frans Vermeulen, OSC pada bulan April 1976, sebulan setelah saya kembali dari Leeds University, Inggris dengan gelar PhD dalam Fisika Polimer, berkunjung ke rumah dinas dosen ITB yang saya tumpangi, untuk meminta saya membantu dengan pikiran, sekali sebulan, dalam rapat anggota Pengurus Yayasan Unpar. Sebelumnya, saya baru kenal nama Unpar melalui mahasiswa anggota PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) yang sedang belajar di Unpar. Karena tiada program studi Fisikanya, perhatian saya tidak tertarik ke Unpar.
  2. Pada tahun 1980, setelah beberapa tahun menjadi pendengar yang baik di rapat-rapat bulanan Yayasan tersebut, saya melihat bahwa pembicaraan di Yayasan memerlukan kesediaan seseorang menyisihkan waktu untuk bertindak secara konkret di “lapangan”. Memang pada tahun 1978an saya sudah diusulkan Dr A Koesdarminta sebagai Ketua Yayasan, menggantikannya sebagai Bendahara YKPTK (Yayasan Kerjasama Perguruan Tinggi Katolik) “karena saya sudah tua dan sibuk” alasannya. Tetapi kemudian saya mengalami bahwa tugas Bendahara itu hanya berupa memeriksa sekali setahun, setumpuk kecil (tebalnya mungkin hanya 25 cm) kuitansi dan bon pengeluaran ini dan itu di Jakarta, sebagai pemeriksa hasil pekerjaan Sekretaris YKPTK Pater Wim Hofsteede, OFM yang amat rendah hati. Maka saya menyimpulkan bahwa itu bukan pekerjaan sulit.
    Kesediaan yang saya tawarkan tahun 1980 itu adalah, suatu upaya menyatukan ujian saringan masuk yang selama itu dilaksanakan oleh masing-masing fakultas Unpar menurut aturan dan putusannya sendiri. Hal itu dipandang kurang sesuai dengan tugas Yayasan yang perlu memperhatikan dijalankannya visi dan misi Unpar, termasuk sejak saat menentukan ciri mahasiswa yang patut dilayani oleh Unpar.
  3. Maka jadilah saya mengembangkan dan mengelola USM (ujian saringan masuk) Unpar yang terpadu, sejak tahun itu sampai ~ tahun 1990. Tahun pertama dengan bermodal beberapa kalkulator dan kesediaan sejumlah dosen yang dapat menggunakannya untuk menghitung skor USM, di GSG (Gedung Serba Guna), yang didirikan dengan bantuan dana Misereor, Jerman, beberapa tahun sebelumnya. Syukurlah bahwa tahun berikutnya Unpar sudah membeli sebuah komputer berRAM 32 kilobyte, yang ketika itu sudah tergolong canggih. Saya pun diminta Rektor yang ketika itu dijabat Pak Koesdarminta, untuk memimpin Pusat Komputer yang hendak didirikan, meski saya sudah mengaku hanya tahu sedikit bahasa pemrograman BASIC dengan keyboard tanpa monitor CRTCathode Ray Tube. Saya rupanya dianggap yang paling banyak tahu tentang komputer. Betapa bedanya dengan tahun 2018 ini!
    Tahun 1985 Pak Koesdarminta meminta saya pindah-tugas, memimpin biro baru, gabungan bagian kemahasiswaan dan bagian akademik, dengan nama BAAK. Lima tahun kemudian saya diminta mengundurkan diri, lalu dijadikan staf ahli akademik di Sekretariat Yayasan. Lokasinya di rumah kecil di utara gedung 3 – FISIP yang kemudian dijadikan lapangan basket. Kini lahan itu telah menjadi suatu pusat kegiatan mahasiswa. Ketika itu saya sudah bukan anggota Pengurus Yayasan, karena rangkap jabatan anggota Pengurus Yayasan tersebut dengan jabatan Kepala Biro disarani Prof Benny Suprapto sebagai Ketua yang baru Pengurus Yayasan, sebaiknya dihindari. Maka sesuai dengan itu, tahun ~1989an itu saya memilih yang lebih konkret kegiatannya, dan melepaskan tugas sebagai anggota Pengurus Yayasan. Catatan: Saya kenal Pak Benny ini sejak tahun 1964, setelah dia kembali dengan gelar PhD dalam Fisika Zat Padat dari Purdue University, Amerika Serikat. Sayapun memintanya menjadi pembimbing Tugas Akhir maupun Kolokium saya. Kemudian ternyata isteri Pak Benny pernah seasrama dengan calon isteri saya (ketika itu) Rosnelly Rusli. Kemudian ternyata pula bahwa pernikahan kami terdukung penuh olehnya. Pak Benny juga berhasil memperoleh tempat bagi saya untuk studi meraih gelar PhD di bidang fisika material-polimer di Inggris. Jadi relasi kami cukup akrab.
  4. Kalau saya renungkan, mengapa saya rela pindah-pindah tugas seperti itu, tampaknya itu saya peroleh karena sejak usia ~10 tahun saya oleh orang tua saya dimasukkan ke kegiatan kepanduan, mula-mula sebagai “welp” (Bahasa Belanda) atau “cub” (Bahasa Inggris) yang diajari untuk “do your best” dan “every day one good deed to do”. Itu kemudian disambung dengan menjadi perintis (verkennerscout) yang bersemboyan “be prepared” / “siap sedia”. Masih ada satu tahap pandu yang tidak sempat saya ikuti karena telah selesai studi di SMA, yaitu “rover scout” yang bersemboyan “for service” / “demi mengabdi”, tetapi tampaknya itu sekedar konsekuensi logis yang semi-otomatis dapat terjadi dengan sendirinya.
  5. Pada tahun 1992, Prof Benny Suprapto mengajak Pengurus Yayasan (saya masih terlibat, sebagai staf ahli) memutuskan mempertahankan status “universitas” Unpar dengan merencanakan mendirikan dua fakultas bidang IPA, yaitu FTI dan FMIPA. Pak Benny ketika itu Ketua Pengurus Yayasan, menggantikan Prof A Sosrowinarso (almarhum thn 1989), yang 10 tahunan sebelumnya menggantikan Pak Koesdarminta, yang tahun 1980 diminta menjadi Rektor (1980-1990) karena Mgr Geise (Rektor tahun 1955-1980) tampak mulai melemah fisiknya akibat usia. Pertimbangannya selain mempertahankan nama “universitas” tersebut, terutama adalah kebutuhan masyarakat akan ahli teknik, dan kebutuhan bangsa akan ahli ilmu; selain itu, ada pertimbangan bahwa harapan dukungan keahlian teman-teman Katolik di bidang teknik industri dan teknik kimia memadai, sedangkan pelayanan kebutuhan pengetahuan matematika dan fisikanya mudah dapat dilayani dengan mengembangkan layanan dosen yang sudah tersedia melalui Fakultas Teknik program studi Teknik Sipil bagi Matematika dan Fisika, tinggal ditingkatkan menjadi suatu fakultas. Pertimbangan finansial juga diperhatikan, karena Unpar perlu menghindari menanggung beban yang terlalu berat, demi kesejahteraan para pegawainya. Saya pribadi mempunyai tambahan visi tentang ini, meskipun tidaklah terlalu tinggi urgensinya, yaitu bahwa dengan hadirnya FMIPA, lengkaplah cakupan fakutlas di Unpar, dari bidang Filsafat ke Humaniora ke Sosial ke Teknik ke Ilmu Fisika dan Matematika. Memang bidang ilmu kesehatan belum tercakup.

bersambung